ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN GANGGUAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
(HIPOVOLEMIA)
DI SUSUN OLEH
KELOMPOK 5
1. SINDI Y. MOKOAGOW
2.
FAISAL
POTABUGA
3.
HASTUTI
MANOPPO
4.
PUTRI
W. POTABUGA
5.
ANITA
MUSTAFA
6.
MUHAMAD
LUKMAN
7.
KARTONO
ANES
AKADEMI KEPERAWATAN TOTABUAN
KOTAMOBAGU
2012/2013
KATA PENGANTAR
Puji
syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Essa karna dengan petunjuknyalah sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun
untuk melengkapi tugas mata kuliah Kebutuhan
Dasar Manusia II.
Dalam makalah ini akan mambahas tentang Hipovolemik yang berhubungan dengan masalah gangguan kebutuhan
cairan dan elektrolit. Setiap poin yang dituliskan, juga akan tersaji bersama dengan penjelasannya. Jadi penyusun rasa Makalah ini sudah bisa menjadi petunjuk untuk kita
semua dalam proses pembelajaran.
Namun
jika ada yang masih kurang, mohon dikembalikan kepada penyusun. Karna walau
bagaimanapun penyusun juga masih mengharapkan kritik dan saran untuk
kelengkapan makalah ini.
Ucapan
terima kasih kepada Dosen penanggung jawab mata kuliah yang telah memberikan
bimbingan dalam penyusunan makalah
ini. Demikian,
semoga makalah ini dapat menambah wawasan dalam perkuliahan di Akper Totabuan
Kotamobagu.
Kotmobagu, 2013
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR………………………………………………… i
DAFTAR
ISI………………………………………………………….. ii
BAB I
PENDAHULUAN…………………………………………….. 1
A.
Latar
Belakang………………………………………………… 1
BAB II TINJAUAN
TEORITIS……………………………………….. 2
A.
Pengertian………………………………………………………. 2
B.
Etiologi…………………………………………………………. 2
C.
Patofisiologi……………………………………………………. 2
D.
Manifestasi
Klinis……………………………………………… 3
E.
Komplikasi…………………………………………………….. 3
F.
Pemeriksaan
Diagnostik………………………………………... 3
G.
Pedoman
Penyuluhan Pasien-Keluarga………………………… 3
H.
Asuhan
Keperawatan…………………………………………… 4
1.
Pengkajian………………………………………………….. 4
2.
Diagnosa……………………………………………………. 6
3.
Perencanaan………………………………………………… 8
4.
Implementesi……………………………………………….. 9
5.
Evaluasi…………………………………………………….. 9
BAB III PENUTUP…………………………………………………….. 10
A.
Kesimpulan……………………………………………………… 10
B.
Saran…………………………………………………………….. 10
BAB IV DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………. 11
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam fisiologi dan kedokteran ,
hipovolemia adalah keadaan penurunan volume darah, lebih spesifik, penurunan
volume plasma darah . Dengan demikian komponen intravaskular kontraksi volume
atau kehilangan volume darah akibat hal-hal seperti pendarahan atau dehidrasi.
Hipovolemia ditandai dengan
garam (natrium) deplesi dan dengan demikian berbeda dari dehidrasi yang
didefinisikan sebagai hilangnya berlebihan cairan tubuh. .Penyebab umum dari
hipovolemia yaitu dehidrasi , perdarahan , muntah, parah luka bakar dan obat
vasodilator biasanya digunakan untuk mengobati hipertensi individu. Jarang, hal
itu mungkin terjadi sebagai hasil dari donor darah , berkeringat,dan konsumsi
alkohol. Hal ini juga umum selama operasi karena penggunaan anestesi,
nihil-oleh-mulut, dan di- operasi pendarahan. Sebuah kista ovarium pecah
terkait dengan (PCOS - sindrom ovarium polikistik) dapat menyebabkan perdarahan
internal yang parah, menyebabkan syok hipovolemik.
Defisit volume cairan, atau
hipovolemia, terjadi dari hilangnya cairan tubuh atau pergeseran cairan ke
dalam ruang ketiga, atau dari asupan cairan berkurang. Sumber umum untuk
kehilangan cairan adalah gastrointestinal (GI) saluran, poliuria, dan keringat
meningkat. Cairan defisit volume dapat menjadi kondisi akut atau kronis yang
dikelola di rumah sakit, pusat rawat jalan, atau pengaturan rumah. Tujuan
terapi adalah untuk mengobati penyakit yang mendasari dan kembali kompartemen
cairan ekstraselular normal. Pengobatan terdiri dari memulihkan volume cairan
dan mengoreksi setiap ketidakseimbangan elektrolit. Pengenalan dini dan
pengobatan adalah hal yang terpenting untuk mencegah syok hipovolemik yang
dapat berpotensi mengancam nyawa. Pasien lanjut usia lebih mungkin untuk
mengembangkan ketidakseimbangan cairan.
1
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.
Pengertian
Hipovolomia adalah suatu kondisi
akibat kekurangan volume cairan ekstraseluler (CES),dan dapat terjadi kerana
kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal dan pendarahan.Mekanisme
konpensasi pada hipovolemik adalah peningkatan rangsangan saraf simpatis
(peningkatan prekuensi jantung, kontraksi jantung, dan tekanan vaskuler), rasa
haus, pelepasan hormone ADH dan adosteron.
Kekurangan Volume cairan (FVD)
terjadi jika air dan elektrolit hilang pada proporsi yang sama ketika mereka
berada pada cairan tubuh normal sehingga rasio elektrolit serum terhadap air
tetap sama. (Brunner & suddarth, 2002)
B. Etiologi
Hipovolemia ini terjadi dapat
disebabkan karena :
1.
Penurunan
masukan.
2.
Kehilangan
cairan yang abnormal melalui : kulit, gastro intestinal, ginjal abnormal, dan
lain-lain.
3.
Perdarahan.
C.
Patofisiologi
Kekurangan volume cairan terjadi
ketika tubuh kehilangan cairan dan elektrolit ekstraseluler dalam jumlah yang
proporsional (isotonik). Kondisi seperti ini disebut juga hipovolemia. Umumnya,
gangguan ini diawali dengan kehilangan cairan intravaskuler, lalu diikuti
dengan perpindahan cairan interseluler menuju intravaskuler sehingga
menyebabkan penurunan cairan ekstraseluler. Untuk mengkompensasi kondisi ini,
tubuh melakukan pemindahan cairan intraseluler.Secara umum, defisit volume
cairan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kehilangan cairan abnormal melalui
kulit, penurunan asupan cairan, perdarahan dan pergerakan cairan ke lokasi
ketiga (lokasi tempat cairan berpindah dan tidak mudah untuk mengembalikanya ke
lokasi semula dalam kondisi cairan ekstraseluler istirahat). Cairan dapat
berpindah dari lokasi intravaskuler menuju lokasi potensial seperti pleura,
peritonium, perikardium, atau rongga sendi. Selain itu, kondisi tertentu,
seperti terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan, dapat terjadi akibat
obstruksi saluran pencernaan.
2
Tanda
dan gejala klinik yang mungkin didapatkan pada klien dengan hipovolemia antara
lain : pusing, kelemahan, keletihan, sinkope, anoreksia, mual, muntah, haus,
kekacauan mental, konstipasi, oliguria. Tergantung pada jenis kehilangan cairan
hipovolemia dapat disertai dengan ketidak seimbangan asam basa, osmolar atau
elektrolit. Penipisan (CES) berat dapat menimbulkan syok hipovolemik. Mekanisme
kompensasi tubuh pada kondisi hipolemia adalah dapat berupa peningkatan
rangsang sistem syaraf simpatis (peningkatan frekwensi jantung, inotropik
(kontraksi jantung) dan tahanan vaskuler), rasa haus, pelepasan hormone
antideuritik (ADH), dan pelepasan aldosteron. Kondisi hipovolemia yang lama
dapat menimbulkan gagal ginjal akut.
Akibat
lanjut dari kekurangan volume cairan dapat mengakibatkan :
1.
Dehidrasi
(Ringan, sedang berat)
2.
Renjatan hipovolemik.
3.
Kejang
pada dehidrasi hipertonik.
Pemeriksaan
penunjang. Penurunan tekanan darah (TD), khususnya bila berdiri (hipotensi ortostatik),
peningkatan frekwensi jantung (FJ), turgor kulit buruk, lidah kering dan kasar,
mata cekung, vena leher kempes, peningkatan suhu dan penurunan berat badan
akut. Pada bayi dan anak-anak: penurunan air mata, depresi fontanel anterior.
G.
Pedoman Penyuluhan pasien-keluarga
Beri pasien dan orang terdekat
instruksi verbal dan tertulis tentang hal berikut :
1. Tanda dan gejala hipovolemia.
2.
Pentingnya
mempertahankan masukan adekuat, khususnya pada anak kecil dan lansia, yang
lebih mungkin untuk terjadi dehidrasi.
3.
Obat-obatan
: nama, dosis, frekwensi, kewaspadaan dan potensial efek samping.
3
H.
Asuhan
Keperawatan
1.
Pengkajian
A.
Data
Subjektif :
1.
Kaji
Batasan Karakteristik
a). Asupan cairan (jumlah dan
jenis)
b). Kulit (kering dan
turgor)
c). Penurunan berat
badan (jumlah dan lamanya)
d). Haluaran urine
(berkurang dan meningkat)
2. Kaji Faktor-Faktor
yang Berhubungan
a).
Diabetes mellitus (diagnosa dan riwayat keluarga / diabetes insipidus)
b).
Penyakit jantung
c). Penyakit ginjal
d). Gangguan atau
bedah gastrointestinal
e). Penggunaan
alcohol
f). Pengobatan:
laksatif/enema, diuretic dan efek samping yang mengiritasi saluran pencernaan (antibiotika dan
kemoterapi)
g). Alergi (makanan dan susu)
h). Panas tinggi/kelembaban
i). Olahraga yang terlalu banyak mengeluarkan
keringat
j). Depresi
k). Nyeri
4
B. Data Objektif
1. Kaji Batasan
Karakteristik
a). Berat badan
sekarang dan sebelum sakit
b). Asupan (1-2 hari
terakhir)
c). Haluaran (1-2
hari terakhir)
d). Tanda-tanda
dehidrasi:
1. Kulit : mukosa
bibir kering, lidah berkerut atau kering, turgor kulitkurang elastis, warna kulit pucat atau memerah, kelembaban kering
ataudiforesis, fontanel bayi cekung dan bola mata cekung.
2. Haluaran urine :
jumlah bervariasi sangat banyak atau sedikit, warna kuning tua atau kuning jernih dan berat jenis naik atau turun.
2. Kaji Faktor-Faktor
yang Berhubungan
a). Kehilangan GI
abnormal : muntah, penghisapan NG, diare, drainase intestinal.
b). Kehilangan kulit
abnormal : diaforesis berlebihan sekunder terhadap demam atau latihan, luka bakar, fibrosis sistik.
c). Kehilangan ginjal
abnormal : terapi diuretik, diabetes insipidus, diuresisosmotik (bentuk poliurik), insufisiensi adrenal, diuresis
osmotik (DM takter kontrol, pasca penggunaan zat kontras.
d). Spasium ketiga
atau perpindahan cairan plasma ke interstisial : peritonitis, obtruksi usus, luka bakar,
acites.
e). Hemorragik
f). Perubahan masukan : koma, kekurangan
cairan.
5
2. Diagnosa
Keperawatan
Kekurangan
volume cairan adalah kondisi ketika individu, yang tidak menjalani puasa, mengalami atau resiko mengalami resiko
dehidrasi vascular, interstisial, atau intravascular.
A. Batasan
Karakteristik
1. Mayor
a). Ketidak cukupan
asupan cairan per oral
b). Balance negative
antara asupan dan haluaran
c). Penurunan berat
badan
d) Kulit/membrane
mukosa kering ( turgor menurun)
2. Minor
a). Peningkatan
natrium serum
b). Penurunun
haluaran urin
c). Urine pekat atau
sering berkemih
d). Penurunan turgor
kulit
e). Haus,
mual/anoreksia
B. Faktor yang
berhubungan :
1.
Berhubungan dengan haluaran urine berlebih, sekunder akibat diabetes insipidus.
2.
Berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler dan kehilangan cairan
melalui evaporasi akibat luka bakar.
6
3.
Berhubungan dengan kehilangan cairan, sekunder akibat demam, drainase abnormal,
dari luka, diare.
4.
Berhubungan dengan penggunaan laksatif, diuretic atau alcohol yang berlebihan.
5.
Berhubungan dengan mual, muntah.
6.
Berhubungan dengan motivasi untuk minum, sekunder akibat depresi atau
keletihan.
7.
Berhubungan dengan masalah diet.
8.
Berhubungan dengan pemberian makan perselang dengan konsentrasi tinggi.
9.
Berhubungan dengan konsentrasi menelan atau kesulitan makan sendiri akibat
nyeri mulut.
C. Tujuan
Menyeimbangkan
volume cairan sesuai dengan kebutuhan tubuh.
D. Kriteria Hasil
Individu akan :
1). Meningkatkan
masukan cairan minimal 2000 ml/hari (kecuali bila ada kontra indikasi).
2). Menceritakan perlunya untuk meningkatkan
masukan cairan selama stresatau panas.
3). Mempertahankan berat jenis urine dalam batas
normal.
4). Memperlihatkan tidak adanya tanda dan gejala
dehidrasi.
7
3. Intervensi
a).
Kaji yang disukai dan yang tidak disukai; beri minuman kesukaan dalam batas
diet.
b).
Rencanakan tujuan masukan cairan untuk setiap pergantian (mis; 1000 ml selama
pagi, 800 ml sore, dan 200 ml malam hari).
c).
Kaji pengertian individu tentang alasan-alasan untuk mempertahankan hidrasi
yang adekuat dan metoda-metoda untuk mencapai tujuan masukan
cairan.
d).
Untuk anak-anak, tawarkan :
(1) Bentuk-bentuk cairan yang menarik (es
krim bertangkai, jus dingin,es berbentuk kerucut)
(2) Wadah yang tidak biasa (cangkir berwarna,
sedotan)
(3) Sebuah permainan atau aktivitas (suruh
anak minum jika tiba giliran anak)
e). Suruh individu
mempertahankan laporan yang tertulis dari masukan cairan dan haluaran urine, jika perlu.
f). Pantau masukan;
pastikan sedikitnya 1500 ml peroral setiap 24 jam.
g). Pantau haluaran;
pastikan sedikitnya 1000-1500 ml setiap 24 jam.
h). Pantau berat
jenis urine
8
4. Implementasi
a). Timbang berat
badan setiap hari dengan jenis baju yang sama, kehilangan berat badan 2%-4% menunjukan dehidrasi ringan, 5%-9% dehidrasi
sedang.
b). Ajarkan bahwa
kopi, teh, dan jus buah anggur menyebabkan diuresis dan dapat menambah kehilangan cairan.
c). Pertimbangkan
kehilangan cairan tambahan yang berhubungan dengan muntah, diare, demam, selang drein.
d).
Pantau kadar elektrolit darah, nitrogen urea darah, urine dan serum
osmolalitas, kreatinin, hematokrit, dan hemoglobin.
e).
Untuk drainase luka Timbang balutan, jika perlu untuk memperkirakan kehilangan cairan.
f). Balut luka untuk meminimalkan kehilangan
cairan.
5. Evaluasi
Evaluasi
pada kekurangan volume cairan yaitu mengacu pada kriteria hasil yaitu:
1). Klien minum ± 2000 ml/hari.
2). Klien mengerti tentang pentingnya
meningkatkan masukan cairan selama stress.
3). Berat jenis urine normal.
4). Tidak terjadi tanda-tanda dehirasi (mukosa
bibir lembab, turgor kulit elastis).
9
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Hipovolomia
adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstraseluler (CES),dan
dapat terjadi kerana kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal dan
pendarahan.Mekanisme konpensasi pada hipovolemik adalah peningkatan rangsangan
saraf simpatis (peningkatan prekuensi jantung, kontraksi jantung, dan tekanan
vaskuler), rasa haus, pelepasan hormone ADH dan adosteron.
B.
Saran
·
Sebaiknya jangan terlalu sering minum
kopi, teh, dan jus buah anggur karena dapat menyebabkan diuresis dan dapat
menambah kehilangan cairan.
·
Pentingnya mempertahankan masukan
adekuat, khususnya pada anak kecil dan lansia, yang lebih mungkin untuk terjadi
dehidrasi.
·
perbanyak minum air setiap hari minimal
sampai 1200 ml/=-perhari.
10
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
http:// jabbarbtj.blogspot.com/2012/12/asuhan-keperawatan-pada-klien.html
http://femoy-s-1keperawatan.blogspot.com/2011/09/hipovolemia.html
http://akperku.blogspot.com/.../hipovolemia-kekurangan-volume-cairan.ht...
11