Saturday, 18 May 2013






ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
(HIPOVOLEMIA)



logo akper.jpg 













DI SUSUN OLEH
KELOMPOK 5
1.      SINDI Y. MOKOAGOW
2.      FAISAL POTABUGA
3.      HASTUTI MANOPPO
4.      PUTRI W. POTABUGA
5.      ANITA MUSTAFA
6.      MUHAMAD LUKMAN
7.      KARTONO ANES




AKADEMI KEPERAWATAN TOTABUAN KOTAMOBAGU
2012/2013




KATA PENGANTAR

            Puji syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Essa karna dengan petunjuknyalah sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia II.
            Dalam makalah ini akan mambahas tentang Hipovolemik yang berhubungan dengan masalah gangguan kebutuhan cairan dan elektrolit. Setiap poin yang dituliskan, juga akan tersaji bersama dengan penjelasannya. Jadi penyusun rasa Makalah ini sudah bisa menjadi petunjuk untuk kita semua dalam proses pembelajaran.
            Namun jika ada yang masih kurang, mohon dikembalikan kepada penyusun. Karna walau bagaimanapun penyusun juga masih mengharapkan kritik dan saran untuk kelengkapan makalah ini.
            Ucapan terima kasih kepada Dosen penanggung jawab mata kuliah yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. Demikian, semoga makalah ini dapat menambah wawasan dalam perkuliahan di Akper Totabuan Kotamobagu.




Kotmobagu,                             2013
Penyusun









                                                                                                                                                            i
DAFTAR ISI

                   KATA PENGANTAR…………………………………………………        i
                   DAFTAR ISI…………………………………………………………..        ii
                   BAB I PENDAHULUAN……………………………………………..        1
A.     Latar Belakang…………………………………………………       1
                   BAB II TINJAUAN TEORITIS………………………………………..      2
A.     Pengertian……………………………………………………….      2
B.     Etiologi………………………………………………………….       2
C.     Patofisiologi…………………………………………………….       2
D.     Manifestasi Klinis………………………………………………      3
E.      Komplikasi……………………………………………………..       3
F.      Pemeriksaan Diagnostik………………………………………...     3
G.     Pedoman Penyuluhan Pasien-Keluarga…………………………    3
H.     Asuhan Keperawatan……………………………………………     4
1.      Pengkajian…………………………………………………..      4
2.      Diagnosa…………………………………………………….      6
3.      Perencanaan…………………………………………………     8
4.      Implementesi………………………………………………..      9
5.      Evaluasi……………………………………………………..      9
                   BAB III PENUTUP……………………………………………………..      10
A.     Kesimpulan………………………………………………………     10
B.     Saran……………………………………………………………..     10
                   BAB IV DAFTAR PUSTAKA………………………………………….     11







                                                                                                                                                          ii
BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Dalam fisiologi dan kedokteran , hipovolemia adalah keadaan penurunan volume darah, lebih spesifik, penurunan volume plasma darah . Dengan demikian komponen intravaskular kontraksi volume atau kehilangan volume darah akibat hal-hal seperti pendarahan atau dehidrasi.

            Hipovolemia ditandai dengan garam (natrium) deplesi dan dengan demikian berbeda dari dehidrasi yang didefinisikan sebagai hilangnya berlebihan cairan tubuh. .Penyebab umum dari hipovolemia yaitu dehidrasi , perdarahan , muntah, parah luka bakar dan obat vasodilator biasanya digunakan untuk mengobati hipertensi individu. Jarang, hal itu mungkin terjadi sebagai hasil dari donor darah , berkeringat,dan konsumsi alkohol. Hal ini juga umum selama operasi karena penggunaan anestesi, nihil-oleh-mulut, dan di- operasi pendarahan. Sebuah kista ovarium pecah terkait dengan (PCOS - sindrom ovarium polikistik) dapat menyebabkan perdarahan internal yang parah, menyebabkan syok hipovolemik.
Defisit volume cairan, atau hipovolemia, terjadi dari hilangnya cairan tubuh atau pergeseran cairan ke dalam ruang ketiga, atau dari asupan cairan berkurang. Sumber umum untuk kehilangan cairan adalah gastrointestinal (GI) saluran, poliuria, dan keringat meningkat. Cairan defisit volume dapat menjadi kondisi akut atau kronis yang dikelola di rumah sakit, pusat rawat jalan, atau pengaturan rumah. Tujuan terapi adalah untuk mengobati penyakit yang mendasari dan kembali kompartemen cairan ekstraselular normal. Pengobatan terdiri dari memulihkan volume cairan dan mengoreksi setiap ketidakseimbangan elektrolit. Pengenalan dini dan pengobatan adalah hal yang terpenting untuk mencegah syok hipovolemik yang dapat berpotensi mengancam nyawa. Pasien lanjut usia lebih mungkin untuk mengembangkan ketidakseimbangan cairan.








1
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.     Pengertian

Hipovolomia adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstraseluler (CES),dan dapat terjadi kerana kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal dan pendarahan.Mekanisme konpensasi pada hipovolemik adalah peningkatan rangsangan saraf simpatis (peningkatan prekuensi jantung, kontraksi jantung, dan tekanan vaskuler), rasa haus, pelepasan hormone ADH dan adosteron.
Kekurangan Volume cairan (FVD) terjadi jika air dan elektrolit hilang pada proporsi yang sama ketika mereka berada pada cairan tubuh normal sehingga rasio elektrolit serum terhadap air tetap sama. (Brunner & suddarth, 2002)

B.     Etiologi
Hipovolemia ini terjadi dapat disebabkan karena :
1.      Penurunan masukan.
2.      Kehilangan cairan yang abnormal melalui : kulit, gastro intestinal, ginjal abnormal, dan lain-lain.
3.       Perdarahan.

C.     Patofisiologi
                       
Kekurangan volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan elektrolit ekstraseluler dalam jumlah yang proporsional (isotonik). Kondisi seperti ini disebut juga hipovolemia. Umumnya, gangguan ini diawali dengan kehilangan cairan intravaskuler, lalu diikuti dengan perpindahan cairan interseluler menuju intravaskuler sehingga menyebabkan penurunan cairan ekstraseluler. Untuk mengkompensasi kondisi ini, tubuh melakukan pemindahan cairan intraseluler.Secara umum, defisit volume cairan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kehilangan cairan abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan, perdarahan dan pergerakan cairan ke lokasi ketiga (lokasi tempat cairan berpindah dan tidak mudah untuk mengembalikanya ke lokasi semula dalam kondisi cairan ekstraseluler istirahat). Cairan dapat berpindah dari lokasi intravaskuler menuju lokasi potensial seperti pleura, peritonium, perikardium, atau rongga sendi. Selain itu, kondisi tertentu, seperti terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan, dapat terjadi akibat obstruksi saluran pencernaan.

2
D.     Manifestasi Klinis
            Tanda dan gejala klinik yang mungkin didapatkan pada klien dengan hipovolemia antara lain : pusing, kelemahan, keletihan, sinkope, anoreksia, mual, muntah, haus, kekacauan mental, konstipasi, oliguria. Tergantung pada jenis kehilangan cairan hipovolemia dapat disertai dengan ketidak seimbangan asam basa, osmolar atau elektrolit. Penipisan (CES) berat dapat menimbulkan syok hipovolemik. Mekanisme kompensasi tubuh pada kondisi hipolemia adalah dapat berupa peningkatan rangsang sistem syaraf simpatis (peningkatan frekwensi jantung, inotropik (kontraksi jantung) dan tahanan vaskuler), rasa haus, pelepasan hormone antideuritik (ADH), dan pelepasan aldosteron. Kondisi hipovolemia yang lama dapat menimbulkan gagal ginjal akut.

E.       Komplikasi
            Akibat lanjut dari kekurangan volume cairan dapat mengakibatkan :
1.      Dehidrasi (Ringan, sedang berat)
2.       Renjatan hipovolemik.
3.      Kejang pada dehidrasi hipertonik.



            Pemeriksaan penunjang. Penurunan tekanan darah (TD), khususnya bila berdiri (hipotensi ortostatik), peningkatan frekwensi jantung (FJ), turgor kulit buruk, lidah kering dan kasar, mata cekung, vena leher kempes, peningkatan suhu dan penurunan berat badan akut. Pada bayi dan anak-anak: penurunan air mata, depresi fontanel anterior.

G.     Pedoman Penyuluhan pasien-keluarga

            Beri pasien dan orang terdekat instruksi verbal dan tertulis tentang hal berikut :
1.  Tanda dan gejala hipovolemia.
2.      Pentingnya mempertahankan masukan adekuat, khususnya pada anak kecil dan lansia, yang lebih mungkin untuk terjadi dehidrasi.
3.      Obat-obatan : nama, dosis, frekwensi, kewaspadaan dan potensial efek samping.



                                                                                                                                               3
H.     Asuhan Keperawatan

1.      Pengkajian

A.    Data Subjektif :

1.      Kaji Batasan Karakteristik
a). Asupan cairan (jumlah dan jenis)
b). Kulit (kering dan turgor)
c). Penurunan berat badan (jumlah dan lamanya)
d). Haluaran urine (berkurang dan meningkat)

2. Kaji Faktor-Faktor yang Berhubungan
a). Diabetes mellitus (diagnosa dan riwayat keluarga / diabetes insipidus)
b). Penyakit jantung
c). Penyakit ginjal
d). Gangguan atau bedah gastrointestinal
e). Penggunaan alcohol
f). Pengobatan: laksatif/enema, diuretic dan efek samping yang mengiritasi saluran                    pencernaan (antibiotika dan kemoterapi)
g).  Alergi (makanan dan susu)
h).  Panas tinggi/kelembaban
i).  Olahraga yang terlalu banyak mengeluarkan keringat
j). Depresi
k).  Nyeri
4
B. Data Objektif
1. Kaji Batasan Karakteristik
a). Berat badan sekarang dan sebelum sakit
b). Asupan (1-2 hari terakhir)
c). Haluaran (1-2 hari terakhir)
d). Tanda-tanda dehidrasi:
1. Kulit : mukosa bibir kering, lidah berkerut atau kering, turgor kulitkurang elastis, warna                                kulit pucat atau memerah, kelembaban kering ataudiforesis, fontanel bayi cekung dan                                      bola mata cekung.
2. Haluaran urine : jumlah bervariasi sangat banyak atau sedikit, warna kuning tua atau                                    kuning jernih dan berat jenis naik atau turun.
                
2. Kaji Faktor-Faktor yang Berhubungan
a). Kehilangan GI abnormal : muntah, penghisapan NG, diare, drainase intestinal.
b). Kehilangan kulit abnormal : diaforesis berlebihan sekunder terhadap demam atau latihan,     luka    bakar, fibrosis sistik.
c). Kehilangan ginjal abnormal : terapi diuretik, diabetes insipidus, diuresisosmotik (bentuk       poliurik), insufisiensi adrenal, diuresis osmotik (DM takter kontrol, pasca penggunaan zat             kontras.
d). Spasium ketiga atau perpindahan cairan plasma ke interstisial : peritonitis, obtruksi usus,      luka     bakar, acites.
e). Hemorragik
  f). Perubahan masukan : koma, kekurangan cairan.

5
2. Diagnosa Keperawatan
            Kekurangan volume cairan adalah kondisi ketika individu, yang tidak menjalani                     puasa, mengalami atau resiko mengalami resiko dehidrasi vascular, interstisial, atau                           intravascular.
A. Batasan Karakteristik
1. Mayor
a). Ketidak cukupan asupan cairan per oral
b). Balance negative antara asupan dan haluaran
c). Penurunan berat badan
d) Kulit/membrane mukosa kering ( turgor menurun)

2. Minor
a). Peningkatan natrium serum
b). Penurunun haluaran urin
c). Urine pekat atau sering berkemih
d). Penurunan turgor kulit
e). Haus, mual/anoreksia

B. Faktor yang berhubungan :
1. Berhubungan dengan haluaran urine berlebih, sekunder akibat diabetes insipidus.
2. Berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler dan kehilangan cairan melalui                                 evaporasi akibat luka bakar.
6
3. Berhubungan dengan kehilangan cairan, sekunder akibat demam, drainase abnormal,                                   dari luka, diare.
4. Berhubungan dengan penggunaan laksatif, diuretic atau alcohol yang berlebihan.
5. Berhubungan dengan mual, muntah.
6. Berhubungan dengan motivasi untuk minum, sekunder akibat depresi atau keletihan.
7. Berhubungan dengan masalah diet.
8. Berhubungan dengan pemberian makan perselang dengan konsentrasi tinggi.
9. Berhubungan dengan konsentrasi menelan atau kesulitan makan sendiri akibat nyeri                                     mulut.
                                                  
C.  Tujuan
       Menyeimbangkan volume cairan sesuai dengan kebutuhan tubuh.

D. Kriteria Hasil
     Individu akan :
1). Meningkatkan masukan cairan minimal 2000 ml/hari (kecuali bila ada kontra indikasi).
2).  Menceritakan perlunya untuk meningkatkan masukan cairan selama stresatau panas.
3).  Mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal.
4).  Memperlihatkan tidak adanya tanda dan gejala dehidrasi.
                


7
3. Intervensi
a). Kaji yang disukai dan yang tidak disukai; beri minuman kesukaan dalam batas diet.
b). Rencanakan tujuan masukan cairan untuk setiap pergantian (mis; 1000 ml selama pagi, 800 ml                    sore, dan 200 ml malam hari).
c). Kaji pengertian individu tentang alasan-alasan untuk mempertahankan hidrasi yang adekuat dan                  metoda-metoda untuk mencapai tujuan masukan cairan.
d). Untuk anak-anak, tawarkan :
   (1) Bentuk-bentuk cairan yang menarik (es krim bertangkai, jus dingin,es berbentuk kerucut)
   (2) Wadah yang tidak biasa (cangkir berwarna, sedotan)
   (3) Sebuah permainan atau aktivitas (suruh anak minum jika tiba giliran anak)
e). Suruh individu mempertahankan laporan yang tertulis dari masukan cairan dan haluaran                              urine, jika perlu.
f). Pantau masukan; pastikan sedikitnya 1500 ml peroral setiap 24 jam.
g). Pantau haluaran; pastikan sedikitnya 1000-1500 ml setiap 24 jam.
h). Pantau berat jenis urine







8
4. Implementasi

a). Timbang berat badan setiap hari dengan jenis baju yang sama, kehilangan berat badan 2%-4%                      menunjukan dehidrasi ringan, 5%-9% dehidrasi sedang.
b). Ajarkan bahwa kopi, teh, dan jus buah anggur menyebabkan diuresis dan dapat menambah                          kehilangan cairan.
c). Pertimbangkan kehilangan cairan tambahan yang berhubungan dengan muntah, diare, demam,                    selang drein.
d). Pantau kadar elektrolit darah, nitrogen urea darah, urine dan serum osmolalitas,                              kreatinin, hematokrit, dan hemoglobin.
e). Untuk drainase luka Timbang balutan, jika perlu untuk memperkirakan kehilangan                          cairan.
f).  Balut luka untuk meminimalkan kehilangan cairan.

5. Evaluasi

Evaluasi pada kekurangan volume cairan yaitu mengacu pada kriteria hasil yaitu:
 1). Klien minum ± 2000 ml/hari.
 2). Klien mengerti tentang pentingnya meningkatkan masukan cairan selama stress.
 3). Berat jenis urine normal.
 4). Tidak terjadi tanda-tanda dehirasi (mukosa bibir lembab, turgor kulit elastis).




                                                                                                                                              9
BAB III
PENUTUP


A.     Kesimpulan

Hipovolomia adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstraseluler (CES),dan dapat terjadi kerana kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal dan pendarahan.Mekanisme konpensasi pada hipovolemik adalah peningkatan rangsangan saraf simpatis (peningkatan prekuensi jantung, kontraksi jantung, dan tekanan vaskuler), rasa haus, pelepasan hormone ADH dan adosteron.

B.     Saran
·         Sebaiknya jangan terlalu sering minum kopi, teh, dan jus buah anggur karena dapat menyebabkan diuresis dan dapat menambah kehilangan cairan.
·         Pentingnya mempertahankan masukan adekuat, khususnya pada anak kecil dan lansia, yang lebih mungkin untuk terjadi dehidrasi.
·         perbanyak minum air setiap hari minimal sampai 1200  ml/=-perhari. 






















                                                                                                                                       10
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

http:// jabbarbtj.blogspot.com/2012/12/asuhan-keperawatan-pada-klien.html

http://femoy-s-1keperawatan.blogspot.com/2011/09/hipovolemia.html
http://akperku.blogspot.com/.../hipovolemia-kekurangan-volume-cairan.ht...
















                                                                                                                                                         11

No comments:

Post a Comment